fbpx

Kunci Utama Mengasah Agile Habits

Saya menuliskan tulisan ini ketika duduk di bangku belajar masa kecil yang ada di rumah ibu saya di Belanda. Saya jadi teringat sebuah momen yang bagus untuk merefleksikan pondasi utama dalam mengasah Agile Habits. Pondasi utama dalam mengasah Agile Habits adalah dengan memiliki kemauan untuk terus belajar.

Baca Juga: Agile Habits, Cara Ampuh Ubah Kebiasaan dalam Satu Waktu

Mengapa Kita Perlu Terus Belajar

Ketika kita tumbuh dewasa, setiap hari kita akan belajar hal-hal baru. Kenapa kita belajar? Sebagain besar orang akan beralasan bahwa belajar adalah sebuah keharusan. Keharusan itu muncul mungkin karena orang tua atau guru memaksa kita untuk belajar.

Sayangnya konsep belajar selalu diasosiasikan dengan dunia persekolahan atau perkuliahan. Setelah kita lulus dari sekolah atau kuliah maka pilihan ada di tangan kita. Apakah kita akan terus belajar meskipun tak ada yang memaksa atau tidak ingin belajar sama sekali.

Semenjak memasuki bangku kuliah di tahun 2001, saya menyadari bahwa pola belajar saya membantuk sebuah siklus. Ada masa dimana saya belajar dan ada masa saya tidak ingin belajar. Beberapa minggu saya membaca buku bisnis atau religi, beberapa minggu saya tak membaca apapun.

Hal tersebut berlaku sama pada coaching. Beruntung sekarang saya punya seorang coach. Sebelumnya selama tiga tahun saya belum memiliki seorang coach.

Sebagian besar orang belajar sambil mempraktekkan. Saya percaya bahwa semakin kita beranjak dewasa, semakin kita mendorong diri kita untuk belajar lebih dari mempraktekkannya. Seperti misalnya membaca buku, mencoba peralatan baru, mendorong untuk melakukan hal lebih dibandingkan apa yang biasa kita lakukan.

Dalam proses belajar kita biasanya masuk ke dalam rutinitas, pola, ataupun kebiasaan. Apabila rutinitas tersebut bekerja dengan baik dan cocok dengan kita, kita pun membatasi diri terhadap apa yang kita ketahui.

Namun, proses pembelajaran terjadi dalam ruang yang kadang belum kita ketahui. Untuk mengetahui apa yang tidak kita ketahui maka kita perlu mencari tahu informasi baru, bertemu dengan orang baru, dan mencoba alat-alat baru.

Coach saya sekarang mendorong saya untuk melakukan hal baru seperti menggunakan Instagram, menonton video YouTube, membuat IG Reels, menjalin koneksi lebih dalam di LinkedIn, dan melakukan hal baru setiap harinya.

Awalnya ada rasa penolakan, sekarang saya melihat tantangan dalam pekerjaan rumah yang dia berikan kepada saya dan menerima sebagian besar darinya. Hal ini juga mendorong saya untuk pertama kalinya membuat IG Reels yang menurut anak-anak saya cukup menghibur.

Baca Juga: Being Agile: The Key to Get Us Out of The Pandemic

Agile Habits untuk Menciptakan Organisasi yang Agile

Apabila berbicara tentang proses menciptakan organisasi yang agile, berikut ini beberapa pertanyaan yang muncul:

  • Bagaimana kita membuat orang ‘melihat’ di luar apa yang biasa mereka lihat?
  • Bagaimana kita membuka pikiran untuk cara kerja yang lebih baik?
  • Bagaimana kita merangsang rasa ingin tahu?
  • Apa yang bisa kita lakukan untuk belajar berpikir kritis?

Cara langsung yang diambil sebagian besar organisasi adalah meminta pihak SDM atau HR untuk menyediakan program pelatihan. Tetapi dalam organisasi yang agile, kami ingin orang-orang mengatur diri mereka sendiri dan itu termasuk dalam pembelajaran.

Beberapa ide yang mungkin bisa dipraktekkan untuk membentuk Agile Habits adalah sebagai berikut;

Open Space, organisasi menyediakan ruang bagi karyawannya entah secara online ataupun ruangan fisik. Ruangan ini akan memberdayakan orang-orang untuk mem-posting topik pembelajaran mereka sendiri, proposal untuk memfasilitasi topik atau pertanyaan. Memberikan suara pada topik dan kemudian berikan batas waktu bagi seseorang untuk memfasilitasi diskusi.

Open Coach Call, orang-orang dapat bergabung dengan sesi pelatihan di mana mereka dapat menceritakan apa tantangan mereka sehari-hari. Pelatih dalam sesi tersebut kemudian dapat membantu mereka mengatasi tantangan atau orang-orang dalam kelompok juga bisa membantunya.

Komunitas, dalam proses pembelajaran kita perlu komunitas yang satu visi untuk mempraktekkan apa yang kita pelajari. Kelompokkan orang-orang di organisasi Anda seputar topik tertentu. Mereka dapat membuat jadwal di mana mereka memiliki acara saling berbagi, mungkin setiap 2 minggu sekali. Peserta yang berbeda dari kelompok pun dapat mempersiapkan sesi berbagi kepada kelompok lainnya.

Setiap pembelajaran dalam organisasi berawal dari kebiasaan yang tepat dari pemimpinnya. Hal tersebut akan menular ke anggota tim lainnya hingga semua orang memiliki kebiasaan untuk selalu belajar.

Sebagai seorang pemimpin, apa yang Anda lakukan untuk membentuk kebiasaan belajar yang baru? Cara apa yang Anda temukan untuk menciptakan organisasi pembelajar? Bagikan beberapa ide di komentar di bawah.

Promo 76% OFF Semua Agile Courses dan Certification di Ekipa untuk Mengasah Agile Habit

Untuk kamu yang ingin mendalami tentang agile dan mengambil sertifikasi scrum master atau product owner, kamu bisa mengaksesnya di E-learning Ekipa. Khusus sampai tanggal 5 September 2021 kamu bisa mendapatkan promo 76% Off untuk semua kursus yang ada di E-learning Ekipa.

Untuk klaim promonya tinggal klik banner di bawah ini, ya!

Open chat