fbpx
  • 00Hari
  • 00Jam
  • 00Menit
  • 00Detik
  • 00Hari
  • 00Jam
  • 00Menit
  • 00Detik

4 Faktor Penyebab Kegagalan Penerapan Agile di Perusahaan Besar Indonesia dan Cara Mengatasinya

Agile enthusiast, pernahkah kamu bertanya dalam hati, mengapa masih banyak perusahaan di Indonesia yang gagal dan belum bagus dalam menerapkan metode Agile? Apa faktor penyebab kegagalan penerapan Agile di perusahaan dan bagaimana cara mengatasinya?

Kalau kamu pernah penasaran dengan hal tersebut, lewat artikel ini kami akan menjelaskan beberapa faktor penyebab Agile belum diterapkan secara baik di perusahaan Indonesia dan tentunya solusi agar penerapan Agile bisa berjalan lancar.

Sudah siap? Mari kita mulai dengan data laporan dari 13th Annual State of Agile Report Version One & Collabnet yang memaparkan hasil penelitiannya tentang tantangan yang dialami dalam penerapan Agile. Hasil temuan penelitian tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Budaya atau nilai perusahaan yang tidak sesuai dengan konsep Agile.
  2. Kurang berpengalaman dalam menerapkan Agile.
  3. Kurangnya dukungan dari pihak manajemen.
  4. Organisasi secara umum menolak perubahan.
  5. Kurangnya pemilik bisnis atau produk.
  6. Training Agile yang tidak mencukupi.
  7. Pengembangan yang masih bersifat tradisional.
  8. Kurang konsisten dalam menerapkan Agile di organisasi.
  9. Alat, data, dan pengukuran yang terpotong-potong.
  10. Kolaborasi yang tidak efektif.
  11. Kepatuhan terhadap peraturan dan pemerintah.

Dari sebelas faktor tersebut, ada dua faktor yang memiliki porsi paling besar dalam menghambat penerapan Agile yakni budaya perusahaan yang tidak sesuai dengan konsep Agile dan kekurangan keterampilan atau pengalaman dalam menerapkan Agile.

Kalau dari pengalaman kami selama empat tahun memberikan pelatihan Agile pada perusahaan maka faktor utama yang membuat gagalnya adopsi konsep Agile di perusahaan adalah visi dan eksekusi jangka panjang.

Mengadopsi konsep Agile ke dalam sebuah tim misalkan tim IT memang mudah, tapi berbeda ceritanya ketika membuat keseluruhan organisasi menerapkan konsep Agile. Karena mengubah struktur dan cara bekerja untuk orang banyak pasti membutuhkan waktu dan butuh percobaan untuk menemukan cara yang tepat bagi perusahaan tertentu.

Penyebab Kegagalan Penerapan Agile di Indonesia

Lantas bagaimana penerapan Agile di Indonesia? Ternyata Indonesia juga memiliki tantangan yang sama seperti data yang ditunjukkan oleh One Version.

Untuk lebih jelasnya, kami akan memaparkan empat faktor penyebab kegagalan penerapan Agile di Indonesia.

1.  Budaya dan Nilai Perusahaan yang Tidak Cocok dengan Nilai Agile

Budaya Perusahaan

Salah satu contoh yang pernah kami jumpai ada pada industri keuangan khususnya perbankan. Ada nilai Agile yang diterapkan yakni penggunaan perangkat lunak yang bekerja di atas dokumen secara komprehensif. Dalam hal ini teknologi berupa perangkat lunak atau software sangat berperan luas.

Budaya dalam sebagian besar bank adalah terkait dengan perlindungan karena tugas dari bank adalah untuk melindungi uang nasabahnya. Untuk melakukan tugas tersebut, mereka menciptakan sistem web yang rumit dan syarat dengan peraturan.

Nilai Agile yang diterapkan adalah bahwa untuk produk IT, mereka lebih fokus pada penciptaan perangkat lunak. Hal tersebut bisa diartikan bahwa tujuan utama dari pembangunan tim perangkat lunak adalah membuat sebagus mungkin sebuah perangkat lunak.

Mereka menciptakan aplikasi yang memberikan pelayanan terbaik untuk klien bank. Tentunya hal ini lebih penting daripada menciptakan dokumen yang komprehensif.

Sayangnya, sekarang mereka tidak menerapkan nilai Agile tersebut karena pemerintah menginginkan kumpulan dokumen dan itu menyebabkan budaya yang ada di bank menjadi tidak sesuai dengan nilai Agile.

Lantas bagaimana cara untuk mengatasi hal ini?

Untuk membuat perubahan maka mau tak mau orang-orang yang ada di bank harus lebih terbuka terhadap ide pengurangan dokumen, yang artinya bahwa perlu ada aplikasi atau fitur yang bisa membantu bank memenuhi peraturan pemerintah terkait dengan kumpulan dokumen.

Kita tak perlu melanggar aturan pemerintah, justru aturan dan regulasi dari pemerintah itu membuat kita tertantang untuk membuat inovasi baru agar aturan dan regulasi itu bisa bermanfaat juga untuk kita.

Pada akhirnya, untuk mencapai perubahan itu diperlukan seorang pemimpin yang memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat dan bisa mengubah status quo dan cara orang dalam memahami resiko.

2.  Kurangnya Pengalaman Terkait Penerapan Agile

Pentingnya Pengalaman

Tantangan terkait kurangnya pengalaman terkait penerapan Agile ini perlu didalami. Ada cerita menarik dari Founder kami terkait hal ini. Saat pertama kali menerapkan Agile di perusahaannya yakni Bridge Globel, beliau berpikir bahwa Agile itu tentang Scrum untuk pengembangan software.

Ternyata ketika diselami lebih jauh, Agile adalah tentang bagaimana cara mengubah struktur, budaya, dan proses untuk mengakomodasi fleksibilitas. Jika ditindaklanjuti maka pengertian Agile adalah budaya dari organisasi mandiri.

Apa maksud dari budaya organisasi mandiri? Maksudnya adalah menemukan kembali bagaimana cara fungsional silo bekerja terhadap lintas departemen. Organisasi mandiri ini bisa menciptakan inovasi bahkan Start-up.

Pada dasarnya dalam mengatasi faktor penyebab kurangnya pengalaman Agile maka bisa dengan mengundang pelatih Scrum atau Agile yang sudah profesional. Pelatih Agile profesional ini akan melatih tim IT untuk mengadopsi prinsip Agile ke dalam internal tim.

Selanjutnya pengalaman penerapan Agile perlu diperluas dan tidak hanya pada tim IT. Departemen yang lain perlu bekerja sama juga dengan tim IT agar mengubah cara departemen tersebut bekerja.

Karena mereka sedang berinteraksi dengan tim IT maka mereka harus menjalani peran secara serius sebagai seorang product owner. Hal ini juga berarti bahwa product owner perlu untuk menghabiskan waktu lebih banyak untuk berkolaborasi dengan tim IT dalam rangka membuat produk yang tepat.

Mereka perlu untuk berbicara dengan user untuk memahami apa yang mereka butuhkan.

Jika berbicara lebih jauh lagi tentang transformasi Agile maka kita perlu untuk mendesain ulang struktur departemen dan budaya perusahaan keseluruhan. Untuk melakukan transformasi ini lagi-lagi kita butuh pemimpin yang bisa menindaklanjuti perubahan ini.

3.  Kurangnya Dukungan dari Pihak Manajemen atau Atasan

Dukungan dari Berbagai Pihak

Masalah selanjutnya yang menghambat penerapan Agile di perusahaan adalah kurangnya dukungan dari pihak manajemen atau atasan. Dalam Agile ini seorang pemimpin perlu menjadikan dirinya inisiator yang mengawali proses perubahan.

Sebagai seorang pemimpin perlu memberikan penjelasan yang jelas pada timnya betapa pentingnya untuk melakukan perubahan. Dalam hal ini diperlukan pemimpin yang mengerti tentang konsep Agile yang artinya dalam melakukan perubahan mereka perlu menerapkan konsep kepemimpinan Agile.

Seorang pemimpin yang Agile mendorong timnya untuk mencari tahu bagaimana cara menyampaikan apa yang pemimpin inginkan. Sedangkan merencanakan program yang Agile memiliki arti bahwa transformasi bersifat berulang.

Dalam pelaksanannya, kita memiliki jaminan atas apa yang ingin dicapai. Perencanaan dibuat setiap seperempat tahun dan dipecah menjadi beberapa tindakan untuk setiap perulangannya.

Kalau bicara secara ideal maka kami tidak memulai transformasi dengan pendekatan perencanaan dalam jangka waktu yang panjang.

Akan ada resistensi ketika transformasi Agile ini melibatkan restrukturisasi organisasi. Apalagi ketika pemimpin melakukan perubahan dengan konsep Agile maka tim yang ada di bawahnya perlu waktu untuk menerima keadaan.

Organisasi yang mandiri membutuhkan lebih sedikit manajemen. Lebih sedikit manajemen itu artinya kita perlu memberhentikan atau mengubah peran orang-orang tertentu.

Lagi-lagi kita memerlukan pemimpin yang kuat kepemimpinannya untuk mendukung upaya ini. Karena hal ini tidak mudah disebabkan banyak orang yang tidak mendukung upaya ini karena takut akan kehilangan peran atau pekerjaan mereka.

4.  Masalah Hierarki dalam Organisasi

Hierarki Perusahaan

Ini adalah masalah yang terjadi ketika bekerja dengan perusahaan yang ada di Indonesia. Sebagian besar anggota tim terbiasa untuk mendapatkan perintah dari atasannya dan sebagian besar pemimpin terbiasa untuk berkuasa dan memberikan perintah. Budaya masyarakat Indonesia terbangun melalui hal tersebut.

Budaya tersebut mendarah daging baik dalam cara pengasuhan orang tua dan cara sekolah dikelola. Namun, sebenarnya hal itu bisa diubah seperti misalnya melalui organisasi.

Kami di Ekipa percaya bahwa organisasi bisa melakukan hal yang berbeda sekalipun berbeda dengan budaya yang berlaku di sebuah negara dan kami telah melihat banyak organisasi yang melakukan hal ini.

Seperti sebuah start-up yang mempekerjakan seluruh pegawainya layaknya organisasi besar. Tetapi sebagian besar start-up menjalankan organisasinya berdasarkan konsep Agile. Sehingga, ketika ada orang-orang yang terbiasa dengan perintah maka mintalah mereka bergabung dengan start-up sehingga mereka akan lebih berinisiatif.

Hal tersebut yang kami ceritakan di atas menunjukkan bahwa hierarki dalam sebuah organisasi menjadi salah satu masalah terbesar dalam penerapan Agile di Indonesia. Tetapi bukan menjadi hal yang mustahil untuk tetap menerapkan Agile asalkan kita menciptakan budaya dan struktur organisasi yang tepat dan tetap merujuk pada kepemimpinan yang tangguh.

Cara Tepat Mengatasi Kegagalan Penerapan Agile

Dari keempat faktor penyebab kegagalan penerapan Agile di perusahaan besar Indonesia rata-rata memiliki jalan keluar yakni kepemimpinan. Agar Agile bisa berjalan lancar di perusahaan dibutuhkan sosok pemimpin yang mempunyai kepemimpinan kuat dan tangguh.

Kita membutuhkan pemimpin yang memiliki visi jelas akan masa depan, bisa melihat perubahan dalam jangka panjang, berani untuk membuat budaya baru dalam perusahaan, mendobrak batasan-batasan yang membatasi ruang gerak terutama terkait regulasi, dan tentunya bisa memberdayakan anggotanya untuk terus mencoba dan secara berulang menemukan apa yang cocok dijalankan di perusahannya.

Nah, itulah penjelasan penyebab kegagalan penerapan Agile di perusahaan besar Indonesia dan cara mengatasinya. Untuk menerapkan Agile dengan sempurna dibutuhkan pemimpin yang Agile.

Agile Enthusiast, apakah kamu yang akan menjadi pemimpin yang Agile selanjutnya? Siapkan dirimu dalam dunia yang terus berubah dengan mengikuti pelatihan Agile dan sertifikasi Scrum yang diadakan oleh Ekipa.

Kamu juga bisa belajar secara mandiri di e-learn Ekipa.

Selamat belajar dan terus menjadi pribadi yang Agile!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Open chat