Mengapa Retrospective kita gagal

Retrospective menjadi satu bagian yang terintegrasi di dalam Scrum dan tidak boleh untuk dilewatkan. Disini adalah kesempatan bagi Scrum Team untuk menginspeksi dirinya sendiri, beradaptasi dan membuat perencanaan peningkatan(improvement planning) yang akan dilakukan di sprint berikutnya.

Hasil yang diharapkan dalam Retrospective adalah, Scrum Team akan terus belajar, meningkatkan dirinya dan berevolusi untuk menjadi lebih baik , lebih ‘jago’,  lebih dewasa, sehingga pada akhirnya menjadi High Performance Team. 

Tetapi tidak jarang juga Retrospective ini gagal. Gagal baik saat pelaksanaan maupun hasilnya. Akibatnya team tidak akan mendapatkan keuntungan dari event ini dan bisa berdampak terhadap kelanjutan untuk sprint-sprint berikutnya.

Berikut adalah beberapa hal yang menyebabkan mengapa Retrospective kita bisa berujung gagal :

Tidak melakukan Retrospective

Ini yang paling utama, jarang atau tidak melakukan Retrospective sama sekali. Umumnya Team akan merasa puas saat Sprint Review dimana PO dan Stakeholder memberikan feedback yang baik dari hasil increment. Karena hal ini pula lah, mereka tidak merasa membutuhkan event ini. Selain itu, dengan deadline yang cukup ketat, banyak juga yang beranggapan kalau Retrospective hanya buang-buang waktu, bagi mereka lebih baik langsung masuk sprint berikutnya daripada menyisihkan waktu untuk melakukan Retro. Dengan begini, keuntungan dari Retrospective tidak akan tercapai termasuk tidak adanya peningkatan terhadap team

Scrum team yang tidak lengkap saat Retrospective

Hal yang cukup disayangkan apabila Retrospective tidak dihadiri oleh Scrum Team secara lengkap. Eksplorasi keberhasilan sebuah team dan juga pencarian masalah (blocker) sangat dibutuhkan dari partisipasi seluruh anggota. Event ini adalah bagian dari inspeksi diri dan team dan bagaimana peningkatan yang dibutuhkan untuk sprint berikutnya.

Tidak adanya keberanian untuk bicara dan terbuka

Diperlukan partisipasi aktif saat Retrospective dilaksanakan. Team diharapkan untuk bisa bicara secara langsung, apa saja yang berjalan dengan baik selama Sprint ini, apa yang kurang dan bagaimana untuk memperbaikinya. Keberanian untuk bicara dan memberikan umpan balik (feedback) di depan umum sangat dibutuhkan saat event ini berjalan. Karena apabila tidak, maka Retrospective akan berjalan pasif dan tidak akan menghasilkan apa-apa.

Terlalu didominasi satu atau dua orang tertentu.

Kebalikan dari nomor 2, Retrospective yang hanya didominasi oleh 1 atau 2 orang saja juga tidak akan efektif. Hal ini akan mengakibatkan tidak terjadinya pengidentifikasian masalah karena dominasi 1 orang biasanya akan menutup permasalahan sesungguhnya dari keseluruhan team. Diharapkan dalam Retrospective, seluruh anggota team dapat berkontribusi secara langsung di dalam forum.

Hanya fokus dengan masalah

Salah satu pertanyaan kunci dalam Retrospective adalah “Apa yang berjalan dengan baik?” . Ini adalah kesempatan tiap anggota team untuk memberikan apresiasi terhadap Scrum Team itu sendiri. Apabila fokus pembicaraan langsung melompat kepada masalah (“Apa yang berjalan tidak baik?”), akan memberi kesan bahwa apa yang dicapai oleh team ini penuh dengan kritik. Akan menjadi tidak baik terhadap moral team tersebut. Suasana yang positif sangat dibutuhkan dalam event ini, sehingga Retrospective tidak hanya menjadi ajang saling tunjuk, kritik dan menyalahkan tetapi juga sebagai wadah untuk saling mengapresiasi sesama anggota team sehingga terjalin harmoni yang baik.

Lemahnya peran scrum master sebagai fasilitator

Dibutuhkan peran Scrum Master yang cukup kuat sebagai fasilitator dalam event ini. Terutama untuk Scrum Team yang masih sangat ‘muda’ dan masih perlu dibimbing, seorang Scrum Master harus dapat membawa Retrospective ini menjadi sebuah event yang menyenangkan dengan nuansa positif. Scrum Master diharapkan dapat menjadi guru (teacher) terhadap Scrum Team dan mengajarkan bagaimana pentingnya event ini. Salah satu titik kritis dalam Retrospective (dan juga Sprint Event lainnya) adalah lemahnya peran Scrum Master sebagai seorang ‘Jedi’ dalam memastikan semua event di dalam Scrum dapat berjalan dengan baik.

Tidak menjalankan rencana peningkatan (improvement plan)

Ini yang paling fatal. Seberapa seringnya Retrospective dilakukan, apabila rencana peningkatan yang sudah disepakati tidak dilaksanakan hasilnya akan sia-sia. Setiap Retro yang ada nanti hanya membicarakan hal yang sama dan itu-itu saja dan akhirnya hanya akan buang-buang waktu. Dibutuhkan komitmen yang kuat dari seluruh anggota team untuk dapat menjalankan apa yang sudah direncanakan. Hal ini pada akhirnya untuk kebaikan bersama sehingga output dari sprint yang diharapkan bisa dihasilkan dengan baik.

Bagaimana dengan Retrospective anda ? Apakah mengalami masalah yang sama atau mungkin ada yang bisa ditambahkan ? Yuuk, kita diskusi langsung.

About Angga Pratama

An Agile Coach with 15 years experience in banking industry. Now on mission to help organization in Indonesia to become agile.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat