fbpx
Webinar
UNLOCKING COMPANY GROWTH THROUGH IMPACTFUL LEADERSHIP
X

Apa itu Agile HR? Ini 2 Perannya dalam Transformasi

Ekipa.co – Era disrupsi yang sedang kita hadapi membuat keberadaan Agile penting untuk perusahaan, tidak terkecuali untuk HR (Human Resources). Pentingnya konsep ini untuk HR memunculkan istilah baru yakni Agile HR.

Keberadaan HR memiliki peran penting terhadap transformasi perusahaan. Perusahaan membutuhkan talenta-talenta yang siap beradaptasi menghadapi perubahan dan bergerak tangkas melakukan inovasi.

Tantangan yang dihadapi oleh HR sekarang ini adalah bagaimana cara untuk melakukan modernisasi, digitalisasi, dan memberikan nilai kepada organisasi atau perusahaan dalam tuntutan kecepatan waktu. Adanya Agile membantu HR menghadapi tantangan itu.

Namun, pertanyaan selanjutnya adalah apa itu Agile HR dan bagaimana peranan HR dalam transformasi perusahaan? Sobat akan menemukannya dalam pembahasan berikut ini.

Baca Juga: The Real Agile Entrepreneurship

Apa Itu Agile HR?

Josh Bersin menyatakan bahwa Agile HR adalah sebuah konsep yang menerangkan jika tugas dari bagian human resources (HR) tidak hanya untuk mengimplementasikan kontrol dan standar perusahaan, melakukan eksekusi, tetapi lebih kepada untuk memfasilitasi dan meningkatkan kelincahan dan ketangkasan organisasi.

Hal tersebut tentulah mengubah misi dan fokus dari HR. Maksud dari memfasilitasi dan meningkatkan ketangkasan organisasi adalah dengan membuat program-program yang menciptakan kemampuan beradaptasi, berinovasi, kolaborasi, dan bergerak cepat.

Konsep yang satu ini ini mengubah peran HR dari manajemen tradisional menjadi manajemen modern (Agile) yang memiliki perbedaan sebagai berikut:

Manajemen tradisionalManajemen Modern
FokusKontrol dan KeselarasanKecepatan dan Konsumen
Impact yang dihasilkanEksekusi, Perintah, dan KontrolKemampuan Adaptasi, Inovasi, dan Kecepatan
Pekerjaan HRMengimplementasikan kontrol, standar, dan sistem untuk menggerakkan eksekusi dan keselarasan harianMengimplementasikan program, strategi, dan sistem yang membantu perkembangan keahlian, kolaborasi, dan pengambilan keputusan.
Sumber: Bahan Presentasi Josh Bersin

Baca Juga: Agile Software Development untuk Meningkatkan Kinerja Perusahaan

Mengapa HR Membutuhkannya?

Beberapa tahun lalu peran karyawan yang ada di departemen atau divisi hanyalah sebagai pengeksekusi strategi yang sudah dipikirkan oleh petinggi perusahaan dan bagian manajemen. Cara tersebut masih berlaku beberapa tahun lalu, tapi sekarang cara tersebut sudah kurang relevan.

Semakin ketatnya persaingan antar perusahaan di era disrupsi ini membuat perusahaan mau tak mau perlu beralih dari organisasi tradisional yang terkesan kaku menjadi organisasi modern.

Organisasi modern menjadikan setiap karyawannya sebagai seorang thinker. Mereka bisa memikirkan strategi apa yang perlu dilakukan untuk menghadapi tantangan.

Selain itu, karyawan mampu mengambil keputusan di tingkat divisi atau departemennya sendiri tanpa harus tergantung dengan atasan atau pihak manajemen. Mereka pun terbuka untuk kolaborasi dan berkontribusi dalam rangka memberikan yang terbaik untuk konsumen.

Implementasi Agile yang membuat perusahaan menjadi perusahaan modern. Perusahaan modern itu seperti apakah? Berikut ini ciri-ciri dari perusahaan modern:

  • Setiap karyawan memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi entrepreneur. Arti dari entrepreneur di sini adalah mereka yang mampu melihat permasalahan dan bisa memberikan solusi dari masalah yang ada.
  • Tersusun dari pemimpin dan entrepreneur yang diberdayakan.
  • Perusahaan menghargai ide-ide dan sudut pandang karyawannya.
  • Perusahaan menghargai eksperimen yang mendukung inovasi.
  • Perusahaan mendukung adanya kolaborasi antar divisi.
  • Perusahaan menggunakan cara kerja iteratif untuk menghasilkan produk sesuai dengan kebutuhan konsumen.

Baca Juga: 4 Brilliant Ways A Business Analyst Can Redefine Their Role in an Agile Environment

Dua Peran Penting Agile HR

Ada dua peran penting dari metode ini yang bisa kita lihat yakni Agile for HR dan HR for Agile. Apa perbedaan dua peran tersebut?

Dua sisi tersebut dijelaskan secara menarik melalui infografis yang berjudul “Agile HR in a Nutell” karya kolaborasi dari Mia Kolmodin dari Dandy People dan Agile HR Community.

1. Agile for HR

Konsep Agile for HR bisa diaplikasikan untuk membangun agile mindset dan menerapkan tools terkait dalam tim HR serta projek yang dikerjakan oleh tim HR. Pengaplikasian konsep ini berfungsi untuk membangun strategi dalam meningkatkan ketangkasan bisnis.

Sumber: Infografis Agile HR for a Nutsell

Berbicara tentang konsep ini bukanlah sekedar tentang sebuah metodologi untuk project management. Agile lebih daripada sekedar metodologi dan bisa diaplikasikan pada bagian tim non-IT sekalipun.

Ketika kita mengulas konsep tersebut, maka kita berbicara tentang bagaimana menjadikan customer sebagai fokus dari apa yang kita lakukan dan membangun bisnis yang bisa memberikan nilai kepada mereka.

Agile for HR membuat cara kerja HR yang tadinya business-centric menjadi human-centric. Maksud dari human-centric ini adalah HR memfokuskan impact yang berdampak kepada customer baik klien dari perusahaan maupun karyawan perusahaan.

Konsep yang satu ini memungkinkan HR untuk lebih cepat memberikan produk atau layanan HR kepada customer. Tak perlu menunggu sempurna, semakin awal HR memberikan nilai melalui produk atau layanan maka semakin cepat mereka mendapatkan umpan balik untuk menyempurnakan produk mereka. Sehingga produk atau layanan HR adalah benar-benar produk dan layanan yang dibutuhkan oleh customer.

Keuntungan menerapkan konsep ini dalam HR adalah bisa meminimalisir risiko produk atau layanan HR yang tidak sesuai dengan kebutuhan dari customer. Metode ini membantu HR dalam memvalidasi produk dan layanan HR mana yang cocok untuk customer.

Kita bisa membuat prototype terlebih dahulu, kemudian diuji cobakan kepada customer, dan apabila cocok dan sesuai dengan kebutuhan customer maka bisa diambil keputusan untuk skalasi produk tersebut.

Hal pertama yang perlu ditanamkan dalam konsep untuk HR ini adalah bagaimana kita menerapkan dan mengembangkan mindset tersebut dalam tim HR. Jadi, sebenarnya tak ada rumus baku untuk melakukan adopsi cara kerjanya dalam tim HR.

Metode Pendekatan yang Digunakan

Agile memiliki banyak metode dan tak terbatas hanya pada Scrum saja. Banyak tim HR melakukan pendekatan uji coba menggunakan beberapa metode dan memilih satu metode yang cocok dengan budaya, struktur organisasi, dan jenis industri dari tim HR.

Apapun metode agile yang nantinya digunakan, pada intinya metode tersebut akan membentuk tim lintas divisi dan fungsi yang bisa berkolaborasi untuk menciptakan inovasi dan memberikan nilai serta solusi lebih cepat bagi customer.

Irama kerja dengan menggunakan metode modern ini pun berbeda dari irama kerja tradisional. Irama kerja tradisional biasanya tahunan. Tim akan melakukan perencanaan satu kali dalam satu tahun dan baru diulas dan ditinjau per enam bulan sekali atau bahkan satu tahun sekali.

Apa yang terjadi jika irama kerja tradisional tersebut masih diterapkan? Hal pasti yang terjadi adalah kita tidak menjadi fleksibel untuk mengikuti perkembangan dan perubahan zaman. Kita tidak bisa dengan mudah mengganti rencana untuk menyesuaikan dengan kebutuhan customer.

Berbeda halnya dengan irama kerja agile yang menggunakan perencanaan per quarter. Perencanaan dilakukan empat kali dalam setahun dengan review yang bisa dilakukan bahkan dua minggu sekali untuk melihat apakah rencana yang sudah dilakukan memberikan impact kepada perusahaan atau tidak.

Menariknya dari irama kerja ini adalah kita bisa melakukan proses learn and adapt, maksudnya adalah apabila ada aktivitas pekerjaan yang kurang berjalan dengan baik maka bisa kita telusuri penyebabnya, ambil pelajaran, dan ambil keputusan apakah aktivitas pekerjaan tersebut harus diganti atau diperbaiki.

Baca Juga: Agile Retrospectives, an Effective Tool for Continuous Improvement

Transparansi juga menjadi kelebihan dari agile. Tim akan memberikan transparansi terkait apa yang mereka kerjakan, sehingga setiap tim bisa tahu sudah sejauh mana kemajuan proyek yang sedang dikerjakan.

Adanya transparansi memberikan kemudahan untuk bisa mengambil keputusan secara cepat tanpa harus menunggu waktu terlalu lama dengan berbagai jenis meeting. Akhirnya, mereka bisa memfokuskan apa yang menjadi prioritas tim saat itu.

Agile HR in a Nutsell

Konsep lain dari Agile for HR yang dijelaskan dalam infografis “Agile HR in a Nutsell” adalah tentang co-creation. Tim HR tidak hanya bekerja sendiri. Tim HR bisa mengundang para customer untuk berkolaborasi bersama menciptakan produk dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Dalam hal ini co-creation menggali sisi empati dari tim HR untuk melihat dari sudut pandang customer. Tak hanya itu co-creation membantu HR untuk tak sekedar memenuhi asumsi tanpa data. Karena asumsi tanpa data hanya akan menghasilkan sesuatu yang sia-sia.

Co-creation memberikan kelebihan yakni mampu menjawab kebutuhan costumer melalui riset, membuat prototype, dan berbicara langsung dengan customer.

Baca Juga: Agile Maturity Assessment Tool, Know your Maturity Level for Free

2. HR for Agile

Sumber: Infografis Agile HR for a Nutsell

HR for agile ini lebih melihat kepada peran HR dalam transformasi perusahaan menghadapi tantangan bisnis saat ini. Konsep ini bisa melihat kembali praktek HR sekarang masih relevan dengan perusahaan atau butuh transformasi.

Kalau konsep Agile for HR lebih kepada penguasaan mindset, maka metode yang satu ini lebih kepada implementasinya. Agile mindset diimplementasikan untuk menata ulang bentuk organisasi sesuai dengan konsep dan organisasi modern.

Agile HR lebih berfokus kepada kebutuhan untuk mendesain ulang praktik SDM dan SDM yang ada, untuk memperkaya pengalaman karyawan dan memungkinkan kelincahan bisnis di seluruh organisasi.

Untuk menghadapi tantangan bisnis di era disrupsi yang begitu cepat maka sebuah bisnis perlu untuk memiliki pemahaman mendalam terkait kebutuhan customer, bertindak dan mengambil keputusan sesuai dengan data (data driven), dan kolaborasi tim antar fungsi untuk menghasilkan inovasi sehingga bisa memberikan nilai kepada customer lebih cepat.

Mindset ini tepat sekali digunakan untuk menghadapi tantangan bisnis di masa yang kompleks dan penuh disrupsi seperti sekarang ini. Karena metode ini tumbuh dalam semua lini bisnis, maka bagian HR pun tak ketinggalan.

HR pun perlu menerapkan cara kerja ini untuk menggatikan cara lama yang sudah usang. Karena praktik kerja HR yang lama bisa mengganggu kelincahan organisasi atau perusahaan untuk beradaptasi dengan tantangan saat ini.

Peran HR untuk Menerapkannya

Lantas bagaimana peran baru HR dalam praktik penerapannya? Sebenarnya peran HR dalam praktik adalah sesederhana membantu para pemimpin memahami jenis peran Agile ke dalam organisasi.

Pertama, mari kita bahas tentang organisasi agile. Organisasi ini harus berfokus kepada customer-centric, kolaborasi, pengambilan keputusan yang berbasis data, keselarasan dan otonomi, memiliki visi dan tujuan yang jelas, bahkan perlu adanya peran agile yang baru.

Peran HR dalam organisasi agile adalah membantu memfasilitasi dan mendefinisikan setiap peran dalam organisasi, membentuk agile leadership, membantu tim untuk bisa bertindak secara self-organized, dan mendukung performa dan perkembangan tim dalam perusahaan.

HR pun perlu melihat peran baru yang ada dalam organisasi ini yakni misalkan Scrum Master atau Product Owner. Pada beberapa perusahaan terdapat transisi dalam organisasi tanpa manajer sekalipun.

Intinya adalah dalah HR for Agile ini adalah HR mampu mengembangkan kemampuan baru sesuai dengan desain organisasi yang agile yang memiliki peran penting untuk memodernisasi cara kerja di masa depan.

Terdapat banyak jenis framework agile dan tak terbatas hanya pada Scrum saja. HR perlu memahami framework ini dan memilihnya sesuai dengan perusahaannya.

HR tak harus menjadi ahli dalam segala jenis framework tersebut. Namun, HR perlu mengenali jenis framework untuk memberikan rekomendasi kepada pemimpin perusahaan untuk menerapkannya.

Pada intinya model cara kerja agile adalah tentang model kerja secara tim yang berkolaborasi bersama untuk menghasilkan produk kepada customer.

Baca Juga: Penerapan Daily Scrum Untuk Development Team, Scrum Master, Dan Product Owner

Sudahkah Perusahaan Anda Menerapkan?

Untuk menerapkan konsep HR ini, Sobat tidak harus bekerja terlebih dahulu di organisasi yang sudah terbentuk. Mulailah dengan mendalami agile mindset dan mengajak rekan-rekan di perusahaan untuk memiliki yang sama.

Memang ranah pengambilan keputusan implementasi cara kerjanya masih berada di tangan para pemimpin perusahaan.

Hal yang bisa dilakukan oleh HR adalah mempromosikan cara kerja self-organized kepada karyawan perusahaan. Satu hal yang ingin dicapai HR dengan menerapkan Agile HR adalah membuat karyawan produktif dan bahagia.

Sudahkah perusahaan Sobat menerapkan konsep mindset ini dalam keseharian? Kalau belum dan perusahaan kamu butuh pendampingan bagaimana menerapkan agile di bidang HR maka Ekipa siap hadir untuk membantu melalui agile training.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

We are moving website domains soon and look forward to sharing a brand new experience with you are Ekipa.co

We are moving our website domain soon and look forward to share a brand new experience with you at ekipa.co

  • 00Days
  • 00Hours
  • 00Minutes
  • 00Second
  • 00Days
  • 00Hours
  • 00Minutes
  • 00Second
Need help? Talk to us